Catatan Tentang Seorang Kawan (Part 3)


Jreenggg…suara gitar membahana membelah kesunyian gunung Sinabung. Saya yang dari kecil bercita-cita piawai main gitar, langsung terkesima. Suara gitar di puncak gunung? Itulah suara gitar yang paling indah yang pernah saya dengar. 


Saya segera keluar tenda dan bergabung dengan anak-anak cowok ABG yang rame-rame gitaran di depan api unggun. Lastri sedari tadi telah bergabung bersama mereka. Suasana malam yang sempurna yang selalu saya dambakan ketika kemping atau naik gunung. Gitaran!

Lagu demi lagu, bait demi bait berganti, tiba-tiba terdengar sebuah lagu yang membuat hati saya dan Lastri hampir meleleh. Entah punya kenangan yang sama atau tidak, kami kompak secara tidak sengaja langsung menyukai lagu tersebut. Bahkan minta diulang berkali-kali. Jadilah lagu tersebut theme song perjalanan kali itu. 


Jika itu yang Terbaik (oleh : Ungu)
            ……………
  Jika itu memang terbaik untuk dirimu
Walau berat untukku berpisah denganmu
Hapus sudah air mata, aku mengerti
Ini bukan mauku itu bukan maumu
 ………….

Seperti sistem otak kita yang bekerja  luar biasa dimana dapat menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya hanya dengan mendengar atau melihat sesuatu, maka itu terjadi pula kepada otak Saya. Ketika mendengar lagu tersebut entah di radio atau di mobil angkutan dan dimana saja, ingatan saya langsung terhubung dengan Gunung Sinabung. Bahkan rentetan urutan peristiwa dari keberangkatan hingga kepulangan perjalanan  ke Sumatera Utara masih terekam baik oleh memori otak saya hanya dengan mendengarkan lagu tersebut.

Ya hanya dengan mendengar sebuah lagu ingatan saya selalu terhubung dengan hal-hal lain. Misalnya saja ketika saya mendengar lagu Asereje yang dinyanyikan oleh Last Ketchup ingatan saya langsung menuju Gunung Rinjani di Lombok.

Saat itu kami sedang nge-camp di Plawangan Sembalun. Ketika matahari pagi mulai bersinar sekelompok pendaki dari Jakarta berjejer berbaris berjemur diri dan tanpa dikomandoi mereka langsung menari sambil menyanyikan lagu Asereje persis seperti gerakan-gerakan di vidio klipnya. Pemandangan yang lucu, menggelikan, namun berbekas di hati. Seandainya dibuat lipsing maka vidio klipnya akan menjadi yang terbaik saat itu, betapa tidak background para penarinya adalah danau segara anak dan gunung baru jari yang indah itu.

Yup, balik lagi ke Sinabung. Esok paginya saya terbangun dan begitu membuka tenda, Masya Allah… pemandangan pintu tenda langsung menuju langit, bermilyar-milyar bintang masih bertaburan dan berkelap-kelip mengerdipkan cahayanya. Walau itu sudah pagi, bintang-bintang itu tak jua beranjak pergi.

Pagi sekitar jam 10-an kami berdua menuruni Gunung Sinabung dengan berat hati. Kemping semalam di puncak Sinabung memang terasa kurang. Namun  petualangan kami masih panjang. Sinabung adalah gunung pertama dan awal perjalanan ini. Selanjutnya kami akan meneruskan pendakian ke Gunung Sibayak.

****
Kami baru saja menuruni Gunung Sibayak lalu apa rencana selanjutnya? Sebuah nomor handphone Saya hubungi. Harapan terakhir untuk mengetahui dari mana memulai pendakian Gunung selanjutnya yaitu Gunung  Sibuatan. Namun seseorang di sebrang sana dengan enggan  tak mau memberi tahu. Katanya masih banyak harimau turun dan berkeliaran di gunung itu. Glekk… harapan itu sirna, pupus sudah segala rencana. Secara berbagai cara telah kami lakukan untuk mencari tahu. Namun keadaan berkata lain. Sibuatan bagai misteri tak terpecahkan.

Di sebuah persimpangan jalan di wilayah Kabanjahe, Aku dan Lastri termenung, terpaku. Semua masih berkecamuk dalam otak dan hati. Gunung Sibuatan dimanakah itu? Semua petunjuk yang mengarah ke sana--blank-- haruskah mengakhiri perjalanan sampai di sini atau melanjutkan namun dengan ketidakjelasan tujuan?

Akhirnya dengan ragu kami memutuskan sesuatu untuk perjalanan ini, dimana keputusan inilah yang akan mengubah alur petualangan kami ke wilayah yang bahkan tidak pernah terbersit sekalipun akan sampai di sana. Cerita itu akan menjadi cerita tersendiri di luar kisah ini. 

Seperti judulnya, cerita ini adalah tentang Lastri, namun ternyata saya mengambil bagian terbanyak dalam kisah yang ditulis ini. Mungkin agak narsis, tapi ternyata saya baru menyadari bahwa banyak kisah yang seharusnya terekam lewat tulisan yang malah terbiarkan mengendap begitu saja dalam ingatan.

Ya, ini tentang Lastri...

Setelah habis masa kontrak kerjanya di perusahaan Philips Muka Kuning Batam pertengahan tahun 2006, ia lalu memutuskan untuk pulang kampung ke Kisaran Sumatera Utara.

Ada sesuatu yang berubah darinya. Kini ia semakin tergila-gila kepada gunung. Kegagalan kami mendaki Gunung Sibuatan membuatnya terobsesi mencari tahu letak lokasi Gunung Sibuatan berada. Perubahannya hanyalah passion lama yang terpendam yang kini bagai menemukan ruang baginya untuk bertransformasi. Sesuatu yang ternyata menjadi titik awal perubahan dalam dirinya, dalam hidupnya.

Beberapa bulan setelah pulang kampung ia mengirim surat mengabarkan keadaannya di sana. What? surat? Hari genee gitu loo masih surat-suratan? Itulah cara kami paling efektif menyambung komunikasi. Kenapa nggak telpon-telponan saja? Halaah susahnya minta ampun, selain beda operator selular kualitas sinyal yang byar pet sering membuat kami berdua jengkel. Secara Lastri tinggalnya lumayan jauh dari pusat Kota Kisaran.

Surat-surat Lastri mengalir berdatangan bagai cerita hidup tentang perjalanan dan petualangannya. Saya bahagia karena ia membagi ceritanya kepada saya. Kadang saya terkesima ketika membaca suratnya. Ia memang punya bakat menulis yang terpendam.

Dalam surat-suratnya ia bercerita tentang petualangannya ke Taman Nasional Gunung Leuseur, Gunung Sorik Marapi, Gunung Kerinci, Perkemahan Sibolangit, daerah Tongging, dan penelusurannya tentang Gunung Sibuatan ke wilayah-wilayah di Sumatera Utara. Semua ini dilakukannya hanya sendirian. 

Masih bersambung....

Posting Komentar

Halaman ini dimoderasi untuk mengurangi spam yang masuk. Terima kasih sudah meninggalkan komen di sini.

Made with by Lina W. Sasmita